WhatsApp Icon
Keutamaan Berkurban di Hari Raya Idul Adha dan Tips Memilih Hewan Terbaik

Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari ini, umat Islam memperingati kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh keikhlasan bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dari peristiwa inilah lahir ibadah kurban yang terus dilaksanakan hingga saat ini.

Dalam konteks kehidupan modern, memahami keutamaan kurban menjadi sangat penting agar ibadah ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi juga memiliki dampak spiritual dan sosial yang mendalam. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga simbol pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang keutamaan kurban, hikmah di baliknya, serta tips memilih hewan kurban terbaik sesuai syariat Islam.


Pengertian Kurban dalam Islam

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak tertentu pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi umat Islam yang mampu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa kurban bisa menjadi wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki.


Dalil tentang Keutamaan Kurban

Banyak dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keutamaan kurban, di antaranya:

1. Perintah Langsung dari Allah SWT

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

2. Amalan yang Paling Dicintai Allah di Hari Nahr

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan betapa besar keutamaan kurban dibandingkan amalan lainnya di hari tersebut.

3. Mendapat Pahala Berlipat Ganda

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap helai bulu hewan kurban akan menjadi pahala bagi orang yang berkurban. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang menjalankan ibadah ini.


Hikmah dan Keutamaan Kurban dalam Kehidupan

1. Meningkatkan Ketakwaan

Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan kita. Dengan demikian, keutamaan kurban terletak pada niat dan keikhlasan.

2. Meneladani Nabi Ibrahim AS

Kurban mengajarkan kita untuk meneladani keimanan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi Allah.

3. Mempererat Solidaritas Sosial

Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar, sehingga memperkuat ukhuwah Islamiyah dan rasa kepedulian sosial.

4. Menghapus Dosa

Sebagian ulama menyebutkan bahwa ibadah kurban dapat menjadi sarana penghapus dosa bagi pelakunya, terutama jika dilakukan dengan penuh keikhlasan.

5. Mendekatkan Diri kepada Allah

Seperti makna dasarnya, keutamaan kurban adalah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui pengorbanan harta.


Jenis Hewan yang Sah untuk Kurban

Dalam Islam, tidak semua hewan bisa dijadikan kurban. Hewan yang diperbolehkan antara lain:

  • Kambing atau domba (untuk satu orang)
  • Sapi atau kerbau (untuk maksimal tujuh orang)
  • Unta (untuk maksimal tujuh orang)

Hewan tersebut harus memenuhi syarat tertentu seperti cukup umur, sehat, dan tidak cacat.


Tips Memilih Hewan Kurban Terbaik

Agar ibadah kurban lebih sempurna, penting untuk memilih hewan yang berkualitas. Berikut beberapa tipsnya:

1. Pastikan Hewan Sehat

Pilih hewan yang aktif, tidak lesu, dan memiliki nafsu makan yang baik. Hindari hewan yang sakit atau menunjukkan tanda-tanda penyakit.

2. Tidak Memiliki Cacat

Hewan kurban tidak boleh cacat seperti buta, pincang, atau sangat kurus. Hal ini sesuai dengan syarat sah kurban dalam Islam.

3. Cukup Umur

Pastikan hewan telah mencapai usia minimal:

  • Kambing: 1 tahun
  • Sapi: 2 tahun
  • Unta: 5 tahun

4. Pilih yang Gemuk dan Berkualitas

Hewan yang gemuk dan sehat menunjukkan kualitas yang baik. Ini juga mencerminkan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah.

5. Beli dari Penjual Terpercaya

Pastikan membeli hewan kurban dari peternak atau penjual yang terpercaya agar kualitasnya terjamin.


Waktu Pelaksanaan Kurban

Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha hingga akhir hari tasyrik. Jika dilakukan sebelum shalat Id, maka tidak dianggap sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa.


Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Berkurban

Beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari:

  • Menunda niat hingga akhir waktu
  • Memilih hewan yang tidak memenuhi syarat
  • Tidak memahami tata cara penyembelihan yang benar
  • Kurang memperhatikan distribusi daging

Memahami hal ini penting agar keutamaan kurban benar-benar dapat diraih secara maksimal.


Meraih Keutamaan Kurban dengan Ikhlas dan Tepat

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa keutamaan kurban tidak hanya terletak pada aspek ibadah semata, tetapi juga pada nilai spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Kurban adalah bentuk nyata dari keimanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami makna dan keutamaan kurban, serta melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk menjalankan ibadah kurban dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

28/04/2026 | Kontributor: Admin
Tata Cara dan Niat Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Ibadah ini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan hari besar umat Islam yang juga identik dengan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Dari sudut pandang seorang muslim, Shalat Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momen spiritual yang sarat makna. Ia mengingatkan kita pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan ketaatan Nabi Ismail AS. Nilai utama yang dapat diambil adalah keikhlasan, kepatuhan, serta ketundukan total kepada perintah Allah SWT.

Selain itu, pelaksanaan Shalat Idul Adha secara berjamaah juga memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Umat Islam berkumpul di lapangan atau masjid untuk melaksanakan shalat bersama, mendengarkan khutbah, serta saling mendoakan.

Hukum dan Waktu Pelaksanaan Shalat Idul Adha

Hukum Shalat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan sekalipun.

Waktu pelaksanaan Shalat Idul Adha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Namun, disunnahkan untuk melaksanakannya lebih awal dibandingkan shalat Idul Fitri agar memberi kesempatan lebih luas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban setelahnya.

Niat Shalat Idul Adha

Dalam melaksanakan Shalat Idul Adha, niat merupakan bagian penting yang harus ada di dalam hati. Berikut bacaan niatnya:

Sebagai makmum:

"Ushalli sunnatan li'idil adha rak'ataini ma'muman lillahi ta'ala"

Sebagai imam:

"Ushalli sunnatan li'idil adha rak'ataini imaman lillahi ta'ala"

Artinya: "Saya niat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum/imam karena Allah Ta'ala."

Tata Cara Shalat Idul Adha

Pelaksanaan Shalat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir. Berikut langkah-langkahnya:

Rakaat Pertama

  1. Niat di dalam hati.
  2. Takbiratul ihram (Allahu Akbar).
  3. Membaca doa iftitah.
  4. Takbir sebanyak 7 kali (tidak termasuk takbiratul ihram).
  5. Di antara takbir, disunnahkan membaca tasbih, tahmid, dan tahlil.
  6. Membaca surat Al-Fatihah.
  7. Membaca surat pendek, disunnahkan surat Al-A’la.
  8. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti biasa.

Rakaat Kedua

  1. Berdiri kembali.
  2. Takbir sebanyak 5 kali.
  3. Di antara takbir membaca dzikir seperti pada rakaat pertama.
  4. Membaca Al-Fatihah.
  5. Membaca surat pendek, disunnahkan surat Al-Ghasyiyah.
  6. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
  7. Tasyahud akhir dan salam.

Setelah selesai Shalat Idul Adha, dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh khatib.

Khutbah Setelah Shalat Idul Adha

Khutbah dalam Shalat Idul Adha hukumnya sunnah, berbeda dengan shalat Jumat yang khutbahnya wajib. Khutbah biasanya terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak.

Isi khutbah umumnya meliputi:

  • Takwa kepada Allah SWT
  • Penjelasan tentang makna Idul Adha
  • Anjuran berkurban
  • Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
  • Doa untuk umat Islam

Mendengarkan khutbah hingga selesai sangat dianjurkan karena mengandung banyak nasihat dan pelajaran.

Sunnah-Sunnah dalam Shalat Idul Adha

Agar pelaksanaan Shalat Idul Adha semakin sempurna, ada beberapa sunnah yang dianjurkan, antara lain:

  1. Mandi sebelum berangkat shalat.
  2. Memakai pakaian terbaik.
  3. Menggunakan wewangian.
  4. Berjalan kaki menuju tempat shalat jika memungkinkan.
  5. Mengumandangkan takbir sejak malam Idul Adha hingga hari tasyrik.
  6. Tidak makan sebelum shalat (berbeda dengan Idul Fitri).
  7. Melewati jalan yang berbeda saat pergi dan pulang.

Sunnah-sunnah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keindahan, kebersihan, dan semangat kebersamaan dalam beribadah.

Hikmah dan Makna Shalat Idul Adha

Di balik pelaksanaan Shalat Idul Adha, terdapat berbagai hikmah yang sangat dalam bagi kehidupan seorang muslim.

Pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan ibadah ini, seorang muslim menunjukkan kepatuhan dan kecintaannya kepada Sang Pencipta.

Kedua, menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Hal ini sangat erat kaitannya dengan ibadah kurban yang dilakukan setelah Shalat Idul Adha. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar.

Ketiga, mempererat tali silaturahmi. Momen berkumpul saat Shalat Idul Adha menciptakan kebersamaan dan memperkuat hubungan antar sesama muslim.

Keempat, mengingatkan tentang pentingnya pengorbanan dalam hidup. Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Shalat Idul Adha

Dalam praktiknya, ada beberapa kesalahan yang sering terjadi saat Shalat Idul Adha, di antaranya:

  • Tidak mengikuti jumlah takbir dengan benar.
  • Datang terlambat sehingga tertinggal shalat berjamaah.
  • Tidak mendengarkan khutbah.
  • Menganggap shalat ini tidak penting karena hukumnya sunnah.

Padahal, meskipun sunnah, Shalat Idul Adha memiliki nilai pahala yang besar dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Sebagai umat Islam, memahami dan melaksanakan Shalat Idul Adha dengan benar merupakan bagian dari bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT. Ibadah ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan keimanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama.

 

Melalui Shalat Idul Adha, kita diajak untuk merenungkan makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah SWT. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk melaksanakan ibadah ini dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan.

28/04/2026 | Kontributor: Admin
Tujuan Berkurban Adalah Bentuk Ketaatan, Ini Hikmah Lengkapnya

 

Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Ibadah ini tidak hanya melibatkan penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung makna spiritual yang dalam. Bagi umat Islam, memahami tujuan berkurban adalah bagian dari menanamkan nilai-nilai keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian sosial. Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam mengenai makna dan hikmah dari berkurban, agar ibadah kita semakin bermakna.

1. Tujuan Berkurban Adalah Menunjukkan Ketaatan Kepada Allah

Salah satu hikmah utama dari ibadah kurban adalah sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah. Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, kita melihat bagaimana beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan mutlak. Dari situ, kita memahami bahwa tujuan berkurban adalah menaati Allah tanpa ragu.

Ketaatan yang ditunjukkan melalui kurban tidak semata pada tindakan menyembelih hewan, tetapi lebih dalam dari itu, yaitu ketundukan hati kepada perintah Ilahi. Oleh karena itu, memahami bahwa tujuan berkurban adalah bentuk ketaatan akan menuntun kita pada penghayatan ibadah yang lebih dalam.

Kisah tersebut menjadi simbol betapa besar keimanan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Maka, setiap Muslim yang berkurban seyogianya menyadari bahwa tujuan berkurban adalah untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Ketika kita melaksanakan kurban dengan kesadaran penuh bahwa tujuan berkurban adalah untuk menaati Allah, maka nilai ibadah ini akan lebih terasa dan berbuah kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, tidak cukup hanya menyembelih hewan semata, tetapi harus disertai niat yang benar bahwa tujuan berkurban adalah mengamalkan syariat dan mencari ridha Allah SWT.

2. Tujuan Berkurban Adalah Melatih Keikhlasan dan Pengorbanan

Ibadah kurban merupakan latihan spiritual yang mengajarkan keikhlasan. Menyisihkan sebagian harta untuk membeli hewan kurban tidak mudah, apalagi bagi mereka yang pendapatannya terbatas. Namun, di situlah letak ujian dan pahala, karena tujuan berkurban adalah mengajarkan kita arti dari pengorbanan.

Dalam pelaksanaannya, kurban juga menuntut kita untuk mengikhlaskan harta yang kita cintai. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kita. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah untuk mempersembahkan hati yang ikhlas dan penuh ketundukan.

Keikhlasan dalam kurban juga terlihat dari niat yang lurus. Tidak mencari pujian atau pengakuan dari manusia, melainkan semata-mata karena Allah. Ketika kita sadar bahwa tujuan berkurban adalah untuk menunjukkan keikhlasan kepada Allah, maka ibadah ini menjadi lebih murni.

Pengorbanan yang kita lakukan dalam kurban adalah simbol dari kesiapan untuk melepaskan hal-hal duniawi demi meraih rida Allah. Maka, tujuan berkurban adalah untuk melatih hati agar tidak terikat pada dunia, melainkan selalu tertambat kepada akhirat.

Dengan melatih keikhlasan dan pengorbanan ini, kurban menjadi sarana penyucian diri. Karena itulah, tujuan berkurban adalah tidak sekadar ritual tahunan, tetapi refleksi dari kematangan iman.

3. Tujuan Berkurban Adalah Mempererat Tali Persaudaraan

Dalam pelaksanaannya, kurban juga membawa dampak sosial yang luar biasa. Pembagian daging kurban kepada fakir miskin dan tetangga merupakan bentuk nyata dari solidaritas umat. Dengan demikian, tujuan berkurban adalah mempererat hubungan antarsesama Muslim.

Kurban menjadi momen di mana kaum yang mampu berbagi dengan mereka yang kekurangan. Ini menumbuhkan empati dan kasih sayang dalam masyarakat. Ketika kita memahami bahwa tujuan berkurban adalah menciptakan kesetaraan dan kebahagiaan, maka kita akan lebih semangat untuk berbagi.

Dalam masyarakat modern yang cenderung individualis, kurban hadir sebagai pengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri. Karena itu, tujuan berkurban adalah untuk memperkuat ukhuwah dan memperluas jaringan kebaikan.

Dengan adanya kurban, tetangga yang jarang berinteraksi bisa saling menyapa dan berbagi. Ini menjadi nilai tambah dari pelaksanaan ibadah kurban, karena tujuan berkurban adalah juga untuk membangun keharmonisan sosial.

Kita pun diajarkan untuk tidak memandang remeh siapapun, karena semua memiliki hak yang sama atas rezeki yang Allah titipkan. Oleh karena itu, tujuan berkurban adalah untuk menyadarkan kita akan pentingnya kebersamaan dalam Islam.

4. Tujuan Berkurban Adalah Meningkatkan Kepedulian Sosial

Setiap tahun, jutaan hewan kurban disembelih dan dagingnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan berkurban adalah untuk memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas.

Banyak orang yang mungkin hanya merasakan makan daging pada saat Idul Adha. Oleh sebab itu, tujuan berkurban adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka, meskipun hanya sesaat.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, kurban menjadi penyejuk bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Maka, tujuan berkurban adalah mengajarkan kepada kita tentang arti penting kepedulian sosial.

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk tidak pelit dan mementingkan diri sendiri. Ketika kita memberikan daging kurban kepada orang lain, kita sedang menjalankan misi sosial Islam. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah untuk mengasah kepekaan sosial umat Muslim.

Dengan semangat ini, kita diingatkan bahwa keberagamaan kita tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari seberapa peduli kita kepada sesama. Jadi, tujuan berkurban adalah memupuk rasa kasih sayang dan empati dalam kehidupan bermasyarakat.

5. Tujuan Berkurban Adalah Mengikuti Sunnah Nabi

Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam segala hal, termasuk dalam pelaksanaan kurban. Beliau tidak pernah meninggalkan kurban, meskipun dalam keadaan sempit. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah mengikuti sunnah beliau sebagai bentuk kecintaan kita kepada Nabi.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah berkurban dua ekor kambing besar dan bertanduk, dan beliau melakukannya setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa tujuan berkurban adalah menjalankan perintah Allah dengan mengikuti contoh Nabi.

Ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah, kita menunjukkan kecintaan kita yang sejati. Maka, tujuan berkurban adalah untuk meneladani semangat pengorbanan Nabi dan menjadikan beliau sebagai panutan.

Dengan berkurban, kita tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga menjaga warisan sunnah Rasulullah. Jadi, tujuan berkurban adalah memperkuat jati diri sebagai Muslim sejati.

Mengikuti sunnah juga membawa keberkahan tersendiri dalam hidup kita. Oleh karena itu, tujuan berkurban adalah menghidupkan tradisi mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan berkurban adalah tidak semata-mata menyembelih hewan, tetapi lebih kepada memperbaiki kualitas diri dan membangun hubungan yang lebih harmonis dengan Allah dan sesama manusia.

Mari kita jadikan ibadah kurban sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan empati, serta menjaga kebersamaan di tengah masyarakat. Karena sesungguhnya, tujuan berkurban adalah menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.

Bagi Anda yang ingin menunaikan kurban namun memiliki keterbatasan waktu atau akses, Anda bisa menyalurkan hewan kurban melalui BAZNAS Kabupaten Sampang, lembaga resmi yang amanah dan terpercaya. Informasi selengkapnya bisa Anda akses di https://kabsampang.baznas.go.id/

 

 

 

Semoga Allah menerima ibadah kurban kita dan menjadikannya pemberat amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.

BAZNAS Kabupaten Sampang memberi kemudahan untuk masyarakat yang ingin berkurban. Caranya mudah, Anda bisa mengunjungi link https://kabsampang.baznas.go.id/bayarkurban lalu ikuti petunjuknya.

28/04/2026 | Kontributor: Admin
Makna dan Hikmah Kurban dalam Islam: Lebih dari Sekadar Penyembelihan

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik. Bagi umat Muslim, ibadah ini bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan memiliki nilai spiritual yang sangat dalam. Makna kurban tidak hanya terletak pada darah dan daging yang dibagikan, tetapi juga pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan modern saat ini, pemahaman tentang kurban sering kali terbatas pada aspek seremonial saja. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, makna kurban mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial.

Sejarah Singkat Ibadah Kurban

Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, beliau menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Nabi Ismail pun menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan.

Namun, sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa Allah tidak menghendaki pengorbanan manusia, melainkan ketaatan dan keikhlasan hati.

Dari kisah ini, kita dapat memahami bahwa makna kurban sejatinya adalah tentang kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi menjalankan perintah Allah.

Pengertian Kurban dalam Islam

Secara bahasa, kurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Dalam konteks syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam hal ini, makna kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar aktivitas sosial atau tradisi tahunan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari ibadah kurban terletak pada ketakwaan, bukan pada aspek fisik semata.

Hikmah dan Makna Kurban dalam Kehidupan

1. Menumbuhkan Ketakwaan

Salah satu hikmah utama dari ibadah kurban adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan kurban, seorang Muslim menunjukkan ketaatan dan kepatuhannya terhadap perintah Allah.

Dalam konteks ini, makna kurban menjadi refleksi sejauh mana kita rela berkorban demi menjalankan ajaran agama.

2. Melatih Keikhlasan

Kurban mengajarkan umat Islam untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Hewan yang dikurbankan sering kali merupakan hasil dari usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, makna kurban juga berkaitan erat dengan keikhlasan dalam berbagi dan beribadah.

3. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial

Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Hal ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, makna kurban tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial.

4. Mengingatkan Akan Pengorbanan Nabi Ibrahim AS

Setiap kali umat Islam melaksanakan kurban, mereka diingatkan pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ini menjadi pelajaran penting tentang ketaatan dan kepercayaan penuh kepada Allah.

Dalam hal ini, makna kurban adalah simbol dari pengorbanan yang tulus dan keimanan yang kokoh.

5. Mengendalikan Sifat Ego dan Cinta Dunia

Manusia cenderung mencintai harta benda. Dengan berkurban, seorang Muslim belajar untuk tidak terlalu terikat pada dunia.

Oleh karena itu, makna kurban juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Kurban dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi

Selain memiliki nilai spiritual, ibadah kurban juga memberikan dampak positif dalam aspek sosial dan ekonomi. Distribusi daging kurban membantu masyarakat kurang mampu untuk merasakan kebahagiaan di hari raya.

Lebih dari itu, kegiatan kurban juga menggerakkan sektor peternakan dan perdagangan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa makna kurban mencakup keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan manfaat bagi sesama manusia.

Kesalahan Persepsi tentang Kurban

Masih banyak masyarakat yang memahami kurban hanya sebagai kewajiban tahunan atau ajang gengsi. Ada pula yang menganggap bahwa semakin mahal hewan kurban, maka semakin tinggi nilai ibadahnya.

Padahal, dalam Islam, yang dinilai adalah niat dan ketakwaan. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan kembali pemahaman tentang makna kurban agar tidak menyimpang dari ajaran yang sebenarnya.

Cara Menghayati Makna Kurban Secara Lebih Mendalam

Agar ibadah kurban tidak hanya menjadi rutinitas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghayati makna kurban secara lebih mendalam:

  1. Memahami tujuan ibadah kurban melalui kajian dan pembelajaran agama.
  2. Meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT.
  3. Memilih hewan kurban dengan baik sesuai syariat, bukan sekadar prestise.
  4. Terlibat langsung dalam proses distribusi, agar merasakan kebahagiaan berbagi.
  5. Merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebagai inspirasi dalam kehidupan.

Relevansi Kurban di Era Modern

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan materialistik, nilai-nilai dalam kurban menjadi semakin penting. Banyak orang terjebak dalam kesibukan dunia hingga melupakan aspek spiritual.

Dalam konteks ini, makna kurban menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai umat Islam, memahami dan mengamalkan ibadah kurban dengan benar adalah suatu keharusan. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban adalah simbol ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial.

Pada akhirnya, makna kurban mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik—lebih taat kepada Allah, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih mampu mengendalikan diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.

 

Dengan memahami esensi ini, diharapkan ibadah kurban yang kita lakukan tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

28/04/2026 | Kontributor: Admin
Panduan Lengkap Ibadah Kurban: Syarat, Waktu, dan Tata Cara yang Benar

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, umat Islam perlu memahami tata cara kurban yang benar agar ibadah ini sah dan bernilai pahala.

Kurban juga menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengetahui syarat, waktu, serta tata cara kurban sesuai tuntunan syariat.


Pengertian Ibadah Kurban

Secara bahasa, kurban berasal dari kata "qaruba" yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibadah ini hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadits Rasulullah SAW.


Hukum dan Dalil Ibadah Kurban

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi)

Dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya memahami dan menjalankan tata cara kurban dengan benar.


Syarat Sah Ibadah Kurban

Agar ibadah kurban diterima, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi:

1. Beragama Islam

Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang muslim.

2. Mampu Secara Finansial

Orang yang berkurban harus memiliki kemampuan ekonomi tanpa memberatkan dirinya.

3. Hewan Kurban Memenuhi Syarat

Hewan yang digunakan harus:

  • Sehat dan tidak cacat
  • Cukup umur:
    • Kambing: minimal 1 tahun
    • Sapi: minimal 2 tahun
    • Unta: minimal 5 tahun

4. Waktu Penyembelihan Tepat

Penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan dalam syariat.

Memenuhi syarat ini adalah bagian penting dari tata cara kurban yang tidak boleh diabaikan.


Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu penyembelihan dimulai setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging biasa (bukan kurban).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, memahami waktu adalah bagian penting dari tata cara kurban yang benar.


Jenis Hewan yang Diperbolehkan

Dalam Islam, hanya beberapa jenis hewan yang sah untuk kurban, yaitu:

  • Kambing atau domba (untuk 1 orang)
  • Sapi (untuk 7 orang)
  • Unta (untuk 7 orang)

Pemilihan hewan yang tepat merupakan bagian dari tata cara kurban yang sesuai syariat.


Tata Cara Kurban yang Benar Sesuai Sunnah

Berikut langkah-langkah tata cara kurban yang benar:

1. Niat yang Ikhlas

Segala ibadah harus diawali dengan niat karena Allah SWT.

2. Tidak Memotong Rambut dan Kuku (bagi yang berkurban)

Sejak awal Dzulhijjah hingga hewan disembelih, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku.

3. Menyembelih Setelah Shalat Id

Penyembelihan dilakukan setelah shalat Idul Adha.

4. Menghadapkan Hewan ke Kiblat

Hewan dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat.

5. Membaca Basmalah dan Takbir

Saat menyembelih, membaca:

“Bismillah, Allahu Akbar”

6. Menggunakan Pisau yang Tajam

Agar hewan tidak tersiksa.

7. Memotong Saluran yang Tepat

Memotong:

  • Saluran pernapasan (trakea)
  • Saluran makanan (esofagus)
  • Dua pembuluh darah

8. Tidak Menyiksa Hewan

Islam sangat menekankan kasih sayang terhadap hewan.

9. Pembagian Daging Kurban

Daging dibagi menjadi:

  • 1/3 untuk diri sendiri
  • 1/3 untuk kerabat
  • 1/3 untuk fakir miskin

Keseluruhan langkah ini merupakan inti dari tata cara kurban yang sesuai sunnah Rasulullah SAW.


Hikmah Ibadah Kurban

Ibadah kurban memiliki banyak hikmah, antara lain:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah

Melalui pengorbanan harta.

2. Menumbuhkan Keikhlasan

Meneladani Nabi Ibrahim AS.

3. Meningkatkan Kepedulian Sosial

Berbagi kepada sesama.

4. Menghapus Dosa

Sebagai bentuk ketaatan dan ibadah.

Memahami hikmah ini akan membuat pelaksanaan tata cara kurban menjadi lebih bermakna.


Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Kurban

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Menyembelih sebelum shalat Id
  • Hewan tidak memenuhi syarat
  • Tidak membaca basmalah
  • Pembagian daging tidak merata

Menghindari kesalahan ini penting agar tata cara kurban tetap sesuai dengan syariat.


Tips Memilih Hewan Kurban Berkualitas

Agar ibadah lebih sempurna:

  • Pilih hewan yang sehat dan aktif
  • Tidak kurus
  • Tidak cacat
  • Bulu bersih dan mengkilap

Memilih hewan terbaik juga bagian dari penyempurnaan tata cara kurban.


Menjalankan Tata Cara Kurban dengan Kesadaran dan Keikhlasan

Ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi bentuk nyata ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan memahami syarat, waktu, dan tata cara kurban secara benar, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

 

Semoga setiap tetesan darah hewan kurban menjadi saksi keimanan kita dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari jadikan momen Idul Adha sebagai sarana memperkuat iman, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperbaiki kualitas ibadah kita.

28/04/2026 | Kontributor: Admin

Artikel Terbaru

Keutamaan Berkurban di Hari Raya Idul Adha dan Tips Memilih Hewan Terbaik
Keutamaan Berkurban di Hari Raya Idul Adha dan Tips Memilih Hewan Terbaik
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari ini, umat Islam memperingati kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh keikhlasan bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dari peristiwa inilah lahir ibadah kurban yang terus dilaksanakan hingga saat ini. Dalam konteks kehidupan modern, memahami keutamaan kurban menjadi sangat penting agar ibadah ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi juga memiliki dampak spiritual dan sosial yang mendalam. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga simbol pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang keutamaan kurban, hikmah di baliknya, serta tips memilih hewan kurban terbaik sesuai syariat Islam. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak tertentu pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi umat Islam yang mampu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa kurban bisa menjadi wajib bagi yang memiliki kelapangan rezeki. Dalil tentang Keutamaan Kurban Banyak dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keutamaan kurban, di antaranya: 1. Perintah Langsung dari Allah SWT Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat ini menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. 2. Amalan yang Paling Dicintai Allah di Hari Nahr Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menegaskan betapa besar keutamaan kurban dibandingkan amalan lainnya di hari tersebut. 3. Mendapat Pahala Berlipat Ganda Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap helai bulu hewan kurban akan menjadi pahala bagi orang yang berkurban. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang menjalankan ibadah ini. Hikmah dan Keutamaan Kurban dalam Kehidupan 1. Meningkatkan Ketakwaan Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan kita. Dengan demikian, keutamaan kurban terletak pada niat dan keikhlasan. 2. Meneladani Nabi Ibrahim AS Kurban mengajarkan kita untuk meneladani keimanan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi Allah. 3. Mempererat Solidaritas Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar, sehingga memperkuat ukhuwah Islamiyah dan rasa kepedulian sosial. 4. Menghapus Dosa Sebagian ulama menyebutkan bahwa ibadah kurban dapat menjadi sarana penghapus dosa bagi pelakunya, terutama jika dilakukan dengan penuh keikhlasan. 5. Mendekatkan Diri kepada Allah Seperti makna dasarnya, keutamaan kurban adalah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui pengorbanan harta. Jenis Hewan yang Sah untuk Kurban Dalam Islam, tidak semua hewan bisa dijadikan kurban. Hewan yang diperbolehkan antara lain: Kambing atau domba (untuk satu orang) Sapi atau kerbau (untuk maksimal tujuh orang) Unta (untuk maksimal tujuh orang) Hewan tersebut harus memenuhi syarat tertentu seperti cukup umur, sehat, dan tidak cacat. Tips Memilih Hewan Kurban Terbaik Agar ibadah kurban lebih sempurna, penting untuk memilih hewan yang berkualitas. Berikut beberapa tipsnya: 1. Pastikan Hewan Sehat Pilih hewan yang aktif, tidak lesu, dan memiliki nafsu makan yang baik. Hindari hewan yang sakit atau menunjukkan tanda-tanda penyakit. 2. Tidak Memiliki Cacat Hewan kurban tidak boleh cacat seperti buta, pincang, atau sangat kurus. Hal ini sesuai dengan syarat sah kurban dalam Islam. 3. Cukup Umur Pastikan hewan telah mencapai usia minimal: Kambing: 1 tahun Sapi: 2 tahun Unta: 5 tahun 4. Pilih yang Gemuk dan Berkualitas Hewan yang gemuk dan sehat menunjukkan kualitas yang baik. Ini juga mencerminkan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah. 5. Beli dari Penjual Terpercaya Pastikan membeli hewan kurban dari peternak atau penjual yang terpercaya agar kualitasnya terjamin. Waktu Pelaksanaan Kurban Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha hingga akhir hari tasyrik. Jika dilakukan sebelum shalat Id, maka tidak dianggap sebagai kurban, melainkan hanya sedekah biasa. Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Berkurban Beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari: Menunda niat hingga akhir waktu Memilih hewan yang tidak memenuhi syarat Tidak memahami tata cara penyembelihan yang benar Kurang memperhatikan distribusi daging Memahami hal ini penting agar keutamaan kurban benar-benar dapat diraih secara maksimal. Meraih Keutamaan Kurban dengan Ikhlas dan Tepat Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa keutamaan kurban tidak hanya terletak pada aspek ibadah semata, tetapi juga pada nilai spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Kurban adalah bentuk nyata dari keimanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami makna dan keutamaan kurban, serta melaksanakannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk menjalankan ibadah kurban dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
ARTIKEL28/04/2026 | Admin
Tata Cara dan Niat Shalat Idul Adha
Tata Cara dan Niat Shalat Idul Adha
Shalat Idul Adha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Ibadah ini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan hari besar umat Islam yang juga identik dengan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dari sudut pandang seorang muslim, Shalat Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momen spiritual yang sarat makna. Ia mengingatkan kita pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan ketaatan Nabi Ismail AS. Nilai utama yang dapat diambil adalah keikhlasan, kepatuhan, serta ketundukan total kepada perintah Allah SWT. Selain itu, pelaksanaan Shalat Idul Adha secara berjamaah juga memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Umat Islam berkumpul di lapangan atau masjid untuk melaksanakan shalat bersama, mendengarkan khutbah, serta saling mendoakan. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Shalat Idul Adha Hukum Shalat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan sekalipun. Waktu pelaksanaan Shalat Idul Adha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga sebelum masuk waktu Dzuhur. Namun, disunnahkan untuk melaksanakannya lebih awal dibandingkan shalat Idul Fitri agar memberi kesempatan lebih luas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban setelahnya. Niat Shalat Idul Adha Dalam melaksanakan Shalat Idul Adha, niat merupakan bagian penting yang harus ada di dalam hati. Berikut bacaan niatnya: Sebagai makmum: "Ushalli sunnatan li'idil adha rak'ataini ma'muman lillahi ta'ala" Sebagai imam: "Ushalli sunnatan li'idil adha rak'ataini imaman lillahi ta'ala" Artinya: "Saya niat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum/imam karena Allah Ta'ala." Tata Cara Shalat Idul Adha Pelaksanaan Shalat Idul Adha terdiri dari dua rakaat dengan tambahan takbir. Berikut langkah-langkahnya: Rakaat Pertama Niat di dalam hati. Takbiratul ihram (Allahu Akbar). Membaca doa iftitah. Takbir sebanyak 7 kali (tidak termasuk takbiratul ihram). Di antara takbir, disunnahkan membaca tasbih, tahmid, dan tahlil. Membaca surat Al-Fatihah. Membaca surat pendek, disunnahkan surat Al-A’la. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti biasa. Rakaat Kedua Berdiri kembali. Takbir sebanyak 5 kali. Di antara takbir membaca dzikir seperti pada rakaat pertama. Membaca Al-Fatihah. Membaca surat pendek, disunnahkan surat Al-Ghasyiyah. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. Tasyahud akhir dan salam. Setelah selesai Shalat Idul Adha, dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Khutbah Setelah Shalat Idul Adha Khutbah dalam Shalat Idul Adha hukumnya sunnah, berbeda dengan shalat Jumat yang khutbahnya wajib. Khutbah biasanya terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sejenak. Isi khutbah umumnya meliputi: Takwa kepada Allah SWT Penjelasan tentang makna Idul Adha Anjuran berkurban Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Doa untuk umat Islam Mendengarkan khutbah hingga selesai sangat dianjurkan karena mengandung banyak nasihat dan pelajaran. Sunnah-Sunnah dalam Shalat Idul Adha Agar pelaksanaan Shalat Idul Adha semakin sempurna, ada beberapa sunnah yang dianjurkan, antara lain: Mandi sebelum berangkat shalat. Memakai pakaian terbaik. Menggunakan wewangian. Berjalan kaki menuju tempat shalat jika memungkinkan. Mengumandangkan takbir sejak malam Idul Adha hingga hari tasyrik. Tidak makan sebelum shalat (berbeda dengan Idul Fitri). Melewati jalan yang berbeda saat pergi dan pulang. Sunnah-sunnah ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keindahan, kebersihan, dan semangat kebersamaan dalam beribadah. Hikmah dan Makna Shalat Idul Adha Di balik pelaksanaan Shalat Idul Adha, terdapat berbagai hikmah yang sangat dalam bagi kehidupan seorang muslim. Pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan ibadah ini, seorang muslim menunjukkan kepatuhan dan kecintaannya kepada Sang Pencipta. Kedua, menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Hal ini sangat erat kaitannya dengan ibadah kurban yang dilakukan setelah Shalat Idul Adha. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Ketiga, mempererat tali silaturahmi. Momen berkumpul saat Shalat Idul Adha menciptakan kebersamaan dan memperkuat hubungan antar sesama muslim. Keempat, mengingatkan tentang pentingnya pengorbanan dalam hidup. Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Shalat Idul Adha Dalam praktiknya, ada beberapa kesalahan yang sering terjadi saat Shalat Idul Adha, di antaranya: Tidak mengikuti jumlah takbir dengan benar. Datang terlambat sehingga tertinggal shalat berjamaah. Tidak mendengarkan khutbah. Menganggap shalat ini tidak penting karena hukumnya sunnah. Padahal, meskipun sunnah, Shalat Idul Adha memiliki nilai pahala yang besar dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Sebagai umat Islam, memahami dan melaksanakan Shalat Idul Adha dengan benar merupakan bagian dari bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT. Ibadah ini bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan keimanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Melalui Shalat Idul Adha, kita diajak untuk merenungkan makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah SWT. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk melaksanakan ibadah ini dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan.
ARTIKEL28/04/2026 | Admin
Tujuan Berkurban Adalah Bentuk Ketaatan, Ini Hikmah Lengkapnya
Tujuan Berkurban Adalah Bentuk Ketaatan, Ini Hikmah Lengkapnya
Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Ibadah ini tidak hanya melibatkan penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung makna spiritual yang dalam. Bagi umat Islam, memahami tujuan berkurban adalah bagian dari menanamkan nilai-nilai keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian sosial. Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam mengenai makna dan hikmah dari berkurban, agar ibadah kita semakin bermakna. 1. Tujuan Berkurban Adalah Menunjukkan Ketaatan Kepada Allah Salah satu hikmah utama dari ibadah kurban adalah sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah. Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, kita melihat bagaimana beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan mutlak. Dari situ, kita memahami bahwa tujuan berkurban adalah menaati Allah tanpa ragu. Ketaatan yang ditunjukkan melalui kurban tidak semata pada tindakan menyembelih hewan, tetapi lebih dalam dari itu, yaitu ketundukan hati kepada perintah Ilahi. Oleh karena itu, memahami bahwa tujuan berkurban adalah bentuk ketaatan akan menuntun kita pada penghayatan ibadah yang lebih dalam. Kisah tersebut menjadi simbol betapa besar keimanan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Maka, setiap Muslim yang berkurban seyogianya menyadari bahwa tujuan berkurban adalah untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta. Ketika kita melaksanakan kurban dengan kesadaran penuh bahwa tujuan berkurban adalah untuk menaati Allah, maka nilai ibadah ini akan lebih terasa dan berbuah kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, tidak cukup hanya menyembelih hewan semata, tetapi harus disertai niat yang benar bahwa tujuan berkurban adalah mengamalkan syariat dan mencari ridha Allah SWT. 2. Tujuan Berkurban Adalah Melatih Keikhlasan dan Pengorbanan Ibadah kurban merupakan latihan spiritual yang mengajarkan keikhlasan. Menyisihkan sebagian harta untuk membeli hewan kurban tidak mudah, apalagi bagi mereka yang pendapatannya terbatas. Namun, di situlah letak ujian dan pahala, karena tujuan berkurban adalah mengajarkan kita arti dari pengorbanan. Dalam pelaksanaannya, kurban juga menuntut kita untuk mengikhlaskan harta yang kita cintai. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kita. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah untuk mempersembahkan hati yang ikhlas dan penuh ketundukan. Keikhlasan dalam kurban juga terlihat dari niat yang lurus. Tidak mencari pujian atau pengakuan dari manusia, melainkan semata-mata karena Allah. Ketika kita sadar bahwa tujuan berkurban adalah untuk menunjukkan keikhlasan kepada Allah, maka ibadah ini menjadi lebih murni. Pengorbanan yang kita lakukan dalam kurban adalah simbol dari kesiapan untuk melepaskan hal-hal duniawi demi meraih rida Allah. Maka, tujuan berkurban adalah untuk melatih hati agar tidak terikat pada dunia, melainkan selalu tertambat kepada akhirat. Dengan melatih keikhlasan dan pengorbanan ini, kurban menjadi sarana penyucian diri. Karena itulah, tujuan berkurban adalah tidak sekadar ritual tahunan, tetapi refleksi dari kematangan iman. 3. Tujuan Berkurban Adalah Mempererat Tali Persaudaraan Dalam pelaksanaannya, kurban juga membawa dampak sosial yang luar biasa. Pembagian daging kurban kepada fakir miskin dan tetangga merupakan bentuk nyata dari solidaritas umat. Dengan demikian, tujuan berkurban adalah mempererat hubungan antarsesama Muslim. Kurban menjadi momen di mana kaum yang mampu berbagi dengan mereka yang kekurangan. Ini menumbuhkan empati dan kasih sayang dalam masyarakat. Ketika kita memahami bahwa tujuan berkurban adalah menciptakan kesetaraan dan kebahagiaan, maka kita akan lebih semangat untuk berbagi. Dalam masyarakat modern yang cenderung individualis, kurban hadir sebagai pengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri. Karena itu, tujuan berkurban adalah untuk memperkuat ukhuwah dan memperluas jaringan kebaikan. Dengan adanya kurban, tetangga yang jarang berinteraksi bisa saling menyapa dan berbagi. Ini menjadi nilai tambah dari pelaksanaan ibadah kurban, karena tujuan berkurban adalah juga untuk membangun keharmonisan sosial. Kita pun diajarkan untuk tidak memandang remeh siapapun, karena semua memiliki hak yang sama atas rezeki yang Allah titipkan. Oleh karena itu, tujuan berkurban adalah untuk menyadarkan kita akan pentingnya kebersamaan dalam Islam. 4. Tujuan Berkurban Adalah Meningkatkan Kepedulian Sosial Setiap tahun, jutaan hewan kurban disembelih dan dagingnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan berkurban adalah untuk memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat luas. Banyak orang yang mungkin hanya merasakan makan daging pada saat Idul Adha. Oleh sebab itu, tujuan berkurban adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka, meskipun hanya sesaat. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, kurban menjadi penyejuk bagi saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Maka, tujuan berkurban adalah mengajarkan kepada kita tentang arti penting kepedulian sosial. Ibadah kurban mengajarkan kita untuk tidak pelit dan mementingkan diri sendiri. Ketika kita memberikan daging kurban kepada orang lain, kita sedang menjalankan misi sosial Islam. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah untuk mengasah kepekaan sosial umat Muslim. Dengan semangat ini, kita diingatkan bahwa keberagamaan kita tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari seberapa peduli kita kepada sesama. Jadi, tujuan berkurban adalah memupuk rasa kasih sayang dan empati dalam kehidupan bermasyarakat. 5. Tujuan Berkurban Adalah Mengikuti Sunnah Nabi Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam segala hal, termasuk dalam pelaksanaan kurban. Beliau tidak pernah meninggalkan kurban, meskipun dalam keadaan sempit. Maka dari itu, tujuan berkurban adalah mengikuti sunnah beliau sebagai bentuk kecintaan kita kepada Nabi. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah berkurban dua ekor kambing besar dan bertanduk, dan beliau melakukannya setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa tujuan berkurban adalah menjalankan perintah Allah dengan mengikuti contoh Nabi. Ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah, kita menunjukkan kecintaan kita yang sejati. Maka, tujuan berkurban adalah untuk meneladani semangat pengorbanan Nabi dan menjadikan beliau sebagai panutan. Dengan berkurban, kita tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga menjaga warisan sunnah Rasulullah. Jadi, tujuan berkurban adalah memperkuat jati diri sebagai Muslim sejati. Mengikuti sunnah juga membawa keberkahan tersendiri dalam hidup kita. Oleh karena itu, tujuan berkurban adalah menghidupkan tradisi mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan berkurban adalah tidak semata-mata menyembelih hewan, tetapi lebih kepada memperbaiki kualitas diri dan membangun hubungan yang lebih harmonis dengan Allah dan sesama manusia. Mari kita jadikan ibadah kurban sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan empati, serta menjaga kebersamaan di tengah masyarakat. Karena sesungguhnya, tujuan berkurban adalah menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Bagi Anda yang ingin menunaikan kurban namun memiliki keterbatasan waktu atau akses, Anda bisa menyalurkan hewan kurban melalui BAZNAS Kabupaten Sampang, lembaga resmi yang amanah dan terpercaya. Informasi selengkapnya bisa Anda akses di https://kabsampang.baznas.go.id/ Semoga Allah menerima ibadah kurban kita dan menjadikannya pemberat amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin. BAZNAS Kabupaten Sampang memberi kemudahan untuk masyarakat yang ingin berkurban. Caranya mudah, Anda bisa mengunjungi link https://kabsampang.baznas.go.id/bayarkurban lalu ikuti petunjuknya.
ARTIKEL28/04/2026 | Admin
Makna dan Hikmah Kurban dalam Islam: Lebih dari Sekadar Penyembelihan
Makna dan Hikmah Kurban dalam Islam: Lebih dari Sekadar Penyembelihan
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik. Bagi umat Muslim, ibadah ini bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan memiliki nilai spiritual yang sangat dalam. Makna kurban tidak hanya terletak pada darah dan daging yang dibagikan, tetapi juga pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam kehidupan modern saat ini, pemahaman tentang kurban sering kali terbatas pada aspek seremonial saja. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, makna kurban mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial. Sejarah Singkat Ibadah Kurban Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, beliau menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Nabi Ismail pun menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan. Namun, sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa Allah tidak menghendaki pengorbanan manusia, melainkan ketaatan dan keikhlasan hati. Dari kisah ini, kita dapat memahami bahwa makna kurban sejatinya adalah tentang kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi menjalankan perintah Allah. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Dalam konteks syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini, makna kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar aktivitas sosial atau tradisi tahunan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari ibadah kurban terletak pada ketakwaan, bukan pada aspek fisik semata. Hikmah dan Makna Kurban dalam Kehidupan 1. Menumbuhkan Ketakwaan Salah satu hikmah utama dari ibadah kurban adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan kurban, seorang Muslim menunjukkan ketaatan dan kepatuhannya terhadap perintah Allah. Dalam konteks ini, makna kurban menjadi refleksi sejauh mana kita rela berkorban demi menjalankan ajaran agama. 2. Melatih Keikhlasan Kurban mengajarkan umat Islam untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Hewan yang dikurbankan sering kali merupakan hasil dari usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, makna kurban juga berkaitan erat dengan keikhlasan dalam berbagi dan beribadah. 3. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Hal ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, makna kurban tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. 4. Mengingatkan Akan Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Setiap kali umat Islam melaksanakan kurban, mereka diingatkan pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ini menjadi pelajaran penting tentang ketaatan dan kepercayaan penuh kepada Allah. Dalam hal ini, makna kurban adalah simbol dari pengorbanan yang tulus dan keimanan yang kokoh. 5. Mengendalikan Sifat Ego dan Cinta Dunia Manusia cenderung mencintai harta benda. Dengan berkurban, seorang Muslim belajar untuk tidak terlalu terikat pada dunia. Oleh karena itu, makna kurban juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Kurban dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi Selain memiliki nilai spiritual, ibadah kurban juga memberikan dampak positif dalam aspek sosial dan ekonomi. Distribusi daging kurban membantu masyarakat kurang mampu untuk merasakan kebahagiaan di hari raya. Lebih dari itu, kegiatan kurban juga menggerakkan sektor peternakan dan perdagangan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa makna kurban mencakup keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan manfaat bagi sesama manusia. Kesalahan Persepsi tentang Kurban Masih banyak masyarakat yang memahami kurban hanya sebagai kewajiban tahunan atau ajang gengsi. Ada pula yang menganggap bahwa semakin mahal hewan kurban, maka semakin tinggi nilai ibadahnya. Padahal, dalam Islam, yang dinilai adalah niat dan ketakwaan. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan kembali pemahaman tentang makna kurban agar tidak menyimpang dari ajaran yang sebenarnya. Cara Menghayati Makna Kurban Secara Lebih Mendalam Agar ibadah kurban tidak hanya menjadi rutinitas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghayati makna kurban secara lebih mendalam: Memahami tujuan ibadah kurban melalui kajian dan pembelajaran agama. Meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Memilih hewan kurban dengan baik sesuai syariat, bukan sekadar prestise. Terlibat langsung dalam proses distribusi, agar merasakan kebahagiaan berbagi. Merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebagai inspirasi dalam kehidupan. Relevansi Kurban di Era Modern Di tengah kehidupan yang serba cepat dan materialistik, nilai-nilai dalam kurban menjadi semakin penting. Banyak orang terjebak dalam kesibukan dunia hingga melupakan aspek spiritual. Dalam konteks ini, makna kurban menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama. Sebagai umat Islam, memahami dan mengamalkan ibadah kurban dengan benar adalah suatu keharusan. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban adalah simbol ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Pada akhirnya, makna kurban mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik—lebih taat kepada Allah, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih mampu mengendalikan diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dengan memahami esensi ini, diharapkan ibadah kurban yang kita lakukan tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL28/04/2026 | Admin
Panduan Lengkap Ibadah Kurban: Syarat, Waktu, dan Tata Cara yang Benar
Panduan Lengkap Ibadah Kurban: Syarat, Waktu, dan Tata Cara yang Benar
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, umat Islam perlu memahami tata cara kurban yang benar agar ibadah ini sah dan bernilai pahala. Kurban juga menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengetahui syarat, waktu, serta tata cara kurban sesuai tuntunan syariat. Pengertian Ibadah Kurban Secara bahasa, kurban berasal dari kata "qaruba" yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadits Rasulullah SAW. Hukum dan Dalil Ibadah Kurban Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya memahami dan menjalankan tata cara kurban dengan benar. Syarat Sah Ibadah Kurban Agar ibadah kurban diterima, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi: 1. Beragama Islam Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang muslim. 2. Mampu Secara Finansial Orang yang berkurban harus memiliki kemampuan ekonomi tanpa memberatkan dirinya. 3. Hewan Kurban Memenuhi Syarat Hewan yang digunakan harus: Sehat dan tidak cacat Cukup umur: Kambing: minimal 1 tahun Sapi: minimal 2 tahun Unta: minimal 5 tahun 4. Waktu Penyembelihan Tepat Penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan dalam syariat. Memenuhi syarat ini adalah bagian penting dari tata cara kurban yang tidak boleh diabaikan. Waktu Pelaksanaan Kurban Waktu penyembelihan dimulai setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging biasa (bukan kurban).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian, memahami waktu adalah bagian penting dari tata cara kurban yang benar. Jenis Hewan yang Diperbolehkan Dalam Islam, hanya beberapa jenis hewan yang sah untuk kurban, yaitu: Kambing atau domba (untuk 1 orang) Sapi (untuk 7 orang) Unta (untuk 7 orang) Pemilihan hewan yang tepat merupakan bagian dari tata cara kurban yang sesuai syariat. Tata Cara Kurban yang Benar Sesuai Sunnah Berikut langkah-langkah tata cara kurban yang benar: 1. Niat yang Ikhlas Segala ibadah harus diawali dengan niat karena Allah SWT. 2. Tidak Memotong Rambut dan Kuku (bagi yang berkurban) Sejak awal Dzulhijjah hingga hewan disembelih, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku. 3. Menyembelih Setelah Shalat Id Penyembelihan dilakukan setelah shalat Idul Adha. 4. Menghadapkan Hewan ke Kiblat Hewan dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat. 5. Membaca Basmalah dan Takbir Saat menyembelih, membaca: “Bismillah, Allahu Akbar” 6. Menggunakan Pisau yang Tajam Agar hewan tidak tersiksa. 7. Memotong Saluran yang Tepat Memotong: Saluran pernapasan (trakea) Saluran makanan (esofagus) Dua pembuluh darah 8. Tidak Menyiksa Hewan Islam sangat menekankan kasih sayang terhadap hewan. 9. Pembagian Daging Kurban Daging dibagi menjadi: 1/3 untuk diri sendiri 1/3 untuk kerabat 1/3 untuk fakir miskin Keseluruhan langkah ini merupakan inti dari tata cara kurban yang sesuai sunnah Rasulullah SAW. Hikmah Ibadah Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah, antara lain: 1. Mendekatkan Diri kepada Allah Melalui pengorbanan harta. 2. Menumbuhkan Keikhlasan Meneladani Nabi Ibrahim AS. 3. Meningkatkan Kepedulian Sosial Berbagi kepada sesama. 4. Menghapus Dosa Sebagai bentuk ketaatan dan ibadah. Memahami hikmah ini akan membuat pelaksanaan tata cara kurban menjadi lebih bermakna. Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Kurban Beberapa kesalahan yang sering terjadi: Menyembelih sebelum shalat Id Hewan tidak memenuhi syarat Tidak membaca basmalah Pembagian daging tidak merata Menghindari kesalahan ini penting agar tata cara kurban tetap sesuai dengan syariat. Tips Memilih Hewan Kurban Berkualitas Agar ibadah lebih sempurna: Pilih hewan yang sehat dan aktif Tidak kurus Tidak cacat Bulu bersih dan mengkilap Memilih hewan terbaik juga bagian dari penyempurnaan tata cara kurban. Menjalankan Tata Cara Kurban dengan Kesadaran dan Keikhlasan Ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi bentuk nyata ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan memahami syarat, waktu, dan tata cara kurban secara benar, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Semoga setiap tetesan darah hewan kurban menjadi saksi keimanan kita dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari jadikan momen Idul Adha sebagai sarana memperkuat iman, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperbaiki kualitas ibadah kita.
ARTIKEL28/04/2026 | Admin
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah, Ini Penjelasan Ulama Lengkap
Hukum Kurban bagi yang Mampu: Wajib atau Sunnah, Ini Penjelasan Ulama Lengkap
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik. Ibadah ini memiliki makna spiritual yang sangat dalam, karena mengajarkan keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian sosial. Namun, sering muncul pertanyaan di tengah umat Islam: hukum kurban bagi yang mampu itu sebenarnya wajib atau hanya sunnah? Pertanyaan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis. Banyak kaum muslimin yang memiliki kemampuan finansial, namun masih ragu untuk berkurban karena belum memahami hukumnya secara jelas. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara lengkap pandangan para ulama mengenai hukum kurban bagi yang mampu, dilengkapi dengan dalil Al-Qur’an, hadis, serta pendapat para imam mazhab. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Dalam konteks syariat, kurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat ibadah kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi salah satu dasar utama disyariatkannya kurban dalam Islam. Dalil Tentang Kurban Selain ayat di atas, terdapat banyak hadis yang menjelaskan keutamaan kurban, di antaranya: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah kurban di sisi Allah SWT. Pendapat Ulama tentang Hukum Kurban bagi yang Mampu 1. Pendapat yang Mengatakan Wajib Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum kurban bagi yang mampu adalah wajib. Pendapat ini dianut oleh: Mazhab Hanafi Sebagian ulama salaf Mereka berdalil dengan hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Menurut mereka, ancaman dalam hadis ini menunjukkan kewajiban. Jika tidak wajib, maka tidak mungkin Rasulullah memberikan peringatan sekeras itu. 2. Pendapat yang Mengatakan Sunnah Muakkad Mayoritas ulama, termasuk: Mazhab Syafi’i Mazhab Maliki Mazhab Hanbali berpendapat bahwa hukum kurban bagi yang mampu adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Mereka berargumen bahwa: Rasulullah SAW tidak mewajibkan secara tegas kepada seluruh umatnya Ada sahabat yang tidak berkurban dan tidak diingkari oleh Nabi Dalam sebuah hadis disebutkan: “Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban…”(HR. Muslim) Kata “ingin” dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban tidak bersifat wajib, melainkan pilihan yang sangat dianjurkan. Analisis Perbedaan Pendapat Perbedaan pendapat mengenai hukum kurban bagi yang mampu sebenarnya merupakan bentuk keluasan dalam fiqih Islam. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil: Ulama yang mewajibkan melihat adanya perintah dan ancaman Ulama yang mensunnahkan melihat konteks pilihan dan praktik sahabat Namun, kedua pendapat sepakat bahwa: Kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan Meninggalkannya bagi yang mampu adalah sesuatu yang tidak baik Siapa yang Termasuk “Mampu”? Dalam pembahasan hukum kurban bagi yang mampu, penting untuk memahami siapa yang dianggap mampu. Menurut para ulama, seseorang dikatakan mampu jika: Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak dalam kondisi berhutang yang memberatkan Memiliki kemampuan membeli hewan kurban tanpa mengganggu kebutuhan keluarga Dengan kata lain, kurban tidak dimaksudkan untuk memberatkan, tetapi sebagai bentuk ibadah bagi yang memiliki kelapangan rezeki. Hikmah dan Keutamaan Kurban Di bagian tengah pembahasan ini, penting untuk kembali menegaskan bahwa memahami hukum kurban bagi yang mampu tidak cukup hanya dari sisi hukum, tetapi juga dari hikmahnya. 1. Bentuk Ketaatan kepada Allah Kurban meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya demi ketaatan kepada Allah. 2. Meningkatkan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, sehingga membantu pemerataan kesejahteraan. 3. Membersihkan Harta Sebagaimana zakat, kurban juga menjadi sarana menyucikan harta yang dimiliki. 4. Mendekatkan Diri kepada Allah Kurban adalah bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. Konsekuensi Meninggalkan Kurban Bagi yang memahami hukum kurban bagi yang mampu, penting juga mengetahui konsekuensi meninggalkannya: Menurut pendapat wajib: berdosa jika ditinggalkan Menurut pendapat sunnah: kehilangan pahala besar dan keutamaan Meskipun ada perbedaan, para ulama sepakat bahwa meninggalkan kurban tanpa alasan yang jelas adalah perbuatan yang kurang baik. Tips Melaksanakan Kurban dengan Benar Agar ibadah kurban lebih maksimal, berikut beberapa tips: Niat yang ikhlas karena Allah Memilih hewan yang sehat dan memenuhi syarat Menyembelih pada waktu yang ditentukan Membagikan daging secara adil Tidak riya dalam beribadah Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa hukum kurban bagi yang mampu memiliki dua pendapat utama di kalangan ulama: Wajib menurut mazhab Hanafi Sunnah muakkad menurut mayoritas ulama Meskipun terdapat perbedaan, keduanya sepakat bahwa kurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim sebaiknya mengambil sikap hati-hati dengan berusaha melaksanakan kurban jika mampu. Hal ini karena ibadah kurban tidak hanya berdimensi hukum, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Dengan memahami hukum kurban bagi yang mampu, diharapkan umat Islam semakin terdorong untuk melaksanakan ibadah ini dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.
ARTIKEL27/04/2026 | Admin
Makna dan Hikmah Kurban dalam Islam: Lebih dari Sekadar Penyembelihan
Makna dan Hikmah Kurban dalam Islam: Lebih dari Sekadar Penyembelihan
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik. Bagi umat Muslim, ibadah ini bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan memiliki nilai spiritual yang sangat dalam. Makna kurban tidak hanya terletak pada darah dan daging yang dibagikan, tetapi juga pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam kehidupan modern saat ini, pemahaman tentang kurban sering kali terbatas pada aspek seremonial saja. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, makna kurban mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial. Sejarah Singkat Ibadah Kurban Ibadah kurban berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, beliau menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Nabi Ismail pun menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan. Namun, sebelum penyembelihan terjadi, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa Allah tidak menghendaki pengorbanan manusia, melainkan ketaatan dan keikhlasan hati. Dari kisah ini, kita dapat memahami bahwa makna kurban sejatinya adalah tentang kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi menjalankan perintah Allah. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Dalam konteks syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini, makna kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar aktivitas sosial atau tradisi tahunan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari ibadah kurban terletak pada ketakwaan, bukan pada aspek fisik semata. Hikmah dan Makna Kurban dalam Kehidupan 1. Menumbuhkan Ketakwaan Salah satu hikmah utama dari ibadah kurban adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan kurban, seorang Muslim menunjukkan ketaatan dan kepatuhannya terhadap perintah Allah. Dalam konteks ini, makna kurban menjadi refleksi sejauh mana kita rela berkorban demi menjalankan ajaran agama. 2. Melatih Keikhlasan Kurban mengajarkan umat Islam untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan. Hewan yang dikurbankan sering kali merupakan hasil dari usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, makna kurban juga berkaitan erat dengan keikhlasan dalam berbagi dan beribadah. 3. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Hal ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, makna kurban tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial. 4. Mengingatkan Akan Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Setiap kali umat Islam melaksanakan kurban, mereka diingatkan pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ini menjadi pelajaran penting tentang ketaatan dan kepercayaan penuh kepada Allah. Dalam hal ini, makna kurban adalah simbol dari pengorbanan yang tulus dan keimanan yang kokoh. 5. Mengendalikan Sifat Ego dan Cinta Dunia Manusia cenderung mencintai harta benda. Dengan berkurban, seorang Muslim belajar untuk tidak terlalu terikat pada dunia. Oleh karena itu, makna kurban juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat. Kurban dalam Perspektif Sosial dan Ekonomi Selain memiliki nilai spiritual, ibadah kurban juga memberikan dampak positif dalam aspek sosial dan ekonomi. Distribusi daging kurban membantu masyarakat kurang mampu untuk merasakan kebahagiaan di hari raya. Lebih dari itu, kegiatan kurban juga menggerakkan sektor peternakan dan perdagangan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa makna kurban mencakup keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan manfaat bagi sesama manusia. Kesalahan Persepsi tentang Kurban Masih banyak masyarakat yang memahami kurban hanya sebagai kewajiban tahunan atau ajang gengsi. Ada pula yang menganggap bahwa semakin mahal hewan kurban, maka semakin tinggi nilai ibadahnya. Padahal, dalam Islam, yang dinilai adalah niat dan ketakwaan. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan kembali pemahaman tentang makna kurban agar tidak menyimpang dari ajaran yang sebenarnya. Cara Menghayati Makna Kurban Secara Lebih Mendalam Agar ibadah kurban tidak hanya menjadi rutinitas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghayati makna kurban secara lebih mendalam: Memahami tujuan ibadah kurban melalui kajian dan pembelajaran agama. Meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Memilih hewan kurban dengan baik sesuai syariat, bukan sekadar prestise. Terlibat langsung dalam proses distribusi, agar merasakan kebahagiaan berbagi. Merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebagai inspirasi dalam kehidupan. Relevansi Kurban di Era Modern Di tengah kehidupan yang serba cepat dan materialistik, nilai-nilai dalam kurban menjadi semakin penting. Banyak orang terjebak dalam kesibukan dunia hingga melupakan aspek spiritual. Dalam konteks ini, makna kurban menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama. Sebagai umat Islam, memahami dan mengamalkan ibadah kurban dengan benar adalah suatu keharusan. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban adalah simbol ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Pada akhirnya, makna kurban mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik—lebih taat kepada Allah, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih mampu mengendalikan diri dari kecintaan berlebihan terhadap dunia. Dengan memahami esensi ini, diharapkan ibadah kurban yang kita lakukan tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga membawa perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL27/04/2026 | Admin
Panduan Lengkap Ibadah Kurban: Syarat, Waktu, dan Tata Cara yang Benar
Panduan Lengkap Ibadah Kurban: Syarat, Waktu, dan Tata Cara yang Benar
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, umat Islam perlu memahami tata cara kurban yang benar agar ibadah ini sah dan bernilai pahala. Kurban juga menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengetahui syarat, waktu, serta tata cara kurban sesuai tuntunan syariat. Pengertian Ibadah Kurban Secara bahasa, kurban berasal dari kata "qaruba" yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadits Rasulullah SAW. Hukum dan Dalil Ibadah Kurban Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi) Dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya memahami dan menjalankan tata cara kurban dengan benar. Syarat Sah Ibadah Kurban Agar ibadah kurban diterima, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi: 1. Beragama Islam Kurban hanya sah dilakukan oleh seorang muslim. 2. Mampu Secara Finansial Orang yang berkurban harus memiliki kemampuan ekonomi tanpa memberatkan dirinya. 3. Hewan Kurban Memenuhi Syarat Hewan yang digunakan harus: Sehat dan tidak cacat Cukup umur: Kambing: minimal 1 tahun Sapi: minimal 2 tahun Unta: minimal 5 tahun 4. Waktu Penyembelihan Tepat Penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan dalam syariat. Memenuhi syarat ini adalah bagian penting dari tata cara kurban yang tidak boleh diabaikan. Waktu Pelaksanaan Kurban Waktu penyembelihan dimulai setelah shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka itu hanyalah daging biasa (bukan kurban).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian, memahami waktu adalah bagian penting dari tata cara kurban yang benar. Jenis Hewan yang Diperbolehkan Dalam Islam, hanya beberapa jenis hewan yang sah untuk kurban, yaitu: Kambing atau domba (untuk 1 orang) Sapi (untuk 7 orang) Unta (untuk 7 orang) Pemilihan hewan yang tepat merupakan bagian dari tata cara kurban yang sesuai syariat. Tata Cara Kurban yang Benar Sesuai Sunnah Berikut langkah-langkah tata cara kurban yang benar: 1. Niat yang Ikhlas Segala ibadah harus diawali dengan niat karena Allah SWT. 2. Tidak Memotong Rambut dan Kuku (bagi yang berkurban) Sejak awal Dzulhijjah hingga hewan disembelih, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku. 3. Menyembelih Setelah Shalat Id Penyembelihan dilakukan setelah shalat Idul Adha. 4. Menghadapkan Hewan ke Kiblat Hewan dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat. 5. Membaca Basmalah dan Takbir Saat menyembelih, membaca: “Bismillah, Allahu Akbar” 6. Menggunakan Pisau yang Tajam Agar hewan tidak tersiksa. 7. Memotong Saluran yang Tepat Memotong: Saluran pernapasan (trakea) Saluran makanan (esofagus) Dua pembuluh darah 8. Tidak Menyiksa Hewan Islam sangat menekankan kasih sayang terhadap hewan. 9. Pembagian Daging Kurban Daging dibagi menjadi: 1/3 untuk diri sendiri 1/3 untuk kerabat 1/3 untuk fakir miskin Keseluruhan langkah ini merupakan inti dari tata cara kurban yang sesuai sunnah Rasulullah SAW. Hikmah Ibadah Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah, antara lain: 1. Mendekatkan Diri kepada Allah Melalui pengorbanan harta. 2. Menumbuhkan Keikhlasan Meneladani Nabi Ibrahim AS. 3. Meningkatkan Kepedulian Sosial Berbagi kepada sesama. 4. Menghapus Dosa Sebagai bentuk ketaatan dan ibadah. Memahami hikmah ini akan membuat pelaksanaan tata cara kurban menjadi lebih bermakna. Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Kurban Beberapa kesalahan yang sering terjadi: Menyembelih sebelum shalat Id Hewan tidak memenuhi syarat Tidak membaca basmalah Pembagian daging tidak merata Menghindari kesalahan ini penting agar tata cara kurban tetap sesuai dengan syariat. Tips Memilih Hewan Kurban Berkualitas Agar ibadah lebih sempurna: Pilih hewan yang sehat dan aktif Tidak kurus Tidak cacat Bulu bersih dan mengkilap Memilih hewan terbaik juga bagian dari penyempurnaan tata cara kurban. Menjalankan Tata Cara Kurban dengan Kesadaran dan Keikhlasan Ibadah kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi bentuk nyata ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan memahami syarat, waktu, dan tata cara kurban secara benar, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Semoga setiap tetesan darah hewan kurban menjadi saksi keimanan kita dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari jadikan momen Idul Adha sebagai sarana memperkuat iman, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperbaiki kualitas ibadah kita.
ARTIKEL27/04/2026 | Admin
Keutamaan Kurban dalam Islam: Hikmah, Dalil, dan Manfaat Spiritual yang Jarang Diketahui
Keutamaan Kurban dalam Islam: Hikmah, Dalil, dan Manfaat Spiritual yang Jarang Diketahui
Keutamaan kurban dalam Islam merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh setiap Muslim, khususnya ketika memasuki bulan Dzulhijjah. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan seorang Muslim, kurban menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan, dan bentuk nyata dari ketakwaan. Sebagai umat Islam, memahami keutamaan kurban dalam Islam akan membantu kita menjalankan ibadah ini dengan lebih penuh kesadaran dan keimanan. Artikel ini akan mengulas secara lengkap hikmah, dalil, serta manfaat spiritual yang sering kali jarang disadari oleh banyak orang. Pengertian Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata “qarraba” yang berarti mendekatkan diri. Dalam istilah syariat, kurban adalah menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu dengan niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini dilaksanakan setiap tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik. Hewan yang dikurbankan biasanya berupa kambing, domba, sapi, atau unta yang memenuhi syarat tertentu. Dalil Tentang Kurban 1. Dalil dari Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa ibadah kurban adalah perintah langsung dari Allah SWT. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan kurban dalam Islam sebagai bentuk ketaatan. 2. Dalil dari Hadis Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan kurban.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menegaskan bahwa kurban adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Keutamaan Kurban dalam Islam yang Perlu Diketahui 1. Bentuk Ketaatan kepada Allah SWT Salah satu keutamaan kurban dalam Islam adalah sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah SWT. Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan tersebut menunjukkan bahwa seorang hamba harus siap mengorbankan apa pun demi menjalankan perintah Allah. 2. Mendekatkan Diri kepada Allah Kurban adalah sarana untuk meningkatkan hubungan spiritual dengan Allah. Dengan berkurban, seorang Muslim menunjukkan kecintaannya kepada Allah di atas segala hal. Allah SWT berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini mempertegas bahwa inti dari keutamaan kurban dalam Islam adalah ketakwaan. 3. Menghapus Dosa Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setiap tetesan darah hewan kurban dapat menjadi penghapus dosa bagi orang yang berkurban. Ini menjadi peluang besar bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari kesalahan yang telah lalu. 4. Mendapat Pahala Berlipat Ganda Ibadah kurban memiliki pahala yang sangat besar. Bahkan disebutkan bahwa setiap bagian dari hewan kurban akan menjadi kebaikan. Hal ini menjadikan keutamaan kurban dalam Islam sebagai investasi akhirat yang sangat berharga. 5. Menumbuhkan Rasa Ikhlas dan Rela Berkorban Kurban mengajarkan nilai keikhlasan. Tidak semua orang mampu mengeluarkan hartanya untuk membeli hewan kurban. Namun, bagi yang melakukannya dengan ikhlas, mereka akan merasakan kedamaian hati dan kepuasan spiritual. Hikmah Kurban dalam Kehidupan Sehari-hari 1. Menguatkan Kepedulian Sosial Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan solidaritas sosial. Melalui kurban, kesenjangan sosial dapat sedikit berkurang, dan kebahagiaan dapat dirasakan bersama. 2. Mengurangi Sifat Cinta Dunia Manusia cenderung mencintai harta. Dengan berkurban, kita dilatih untuk tidak terlalu terikat pada dunia. Inilah salah satu hikmah penting dari keutamaan kurban dalam Islam yang sering tidak disadari. 3. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban biasanya dilakukan secara bersama-sama. Hal ini mempererat hubungan antar sesama Muslim. Manfaat Spiritual Kurban yang Jarang Diketahui 1. Melatih Keteguhan Iman Ibadah kurban bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keyakinan. Orang yang berkurban menunjukkan bahwa ia yakin terhadap janji Allah. 2. Membersihkan Hati Kurban membantu membersihkan hati dari sifat kikir, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. 3. Mendekatkan pada Nilai Tawakal Setelah berkurban, seorang Muslim belajar untuk bertawakal kepada Allah atas rezeki yang ia keluarkan. Ini adalah bagian dari keutamaan kurban dalam Islam yang memiliki dampak jangka panjang dalam kehidupan spiritual. Kesalahan Umum dalam Memahami Kurban Menganggap kurban hanya sebagai tradisi tahunan Tidak memahami niat ibadah Kurang memperhatikan syarat hewan kurban Mengabaikan pembagian daging yang adil Memahami keutamaan kurban dalam Islam dapat membantu kita menghindari kesalahan-kesalahan tersebut. Tips Agar Kurban Lebih Bermakna Niatkan ibadah semata-mata karena Allah Pilih hewan terbaik sesuai kemampuan Libatkan keluarga dalam proses kurban Perbanyak dzikir dan doa selama hari tasyrik Pada akhirnya, keutamaan kurban dalam Islam tidak hanya terletak pada penyembelihan hewan, tetapi pada makna mendalam di baliknya. Kurban adalah simbol ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami hikmah, dalil, dan manfaat spiritualnya, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih maksimal dan penuh kesadaran. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari ibadah kurban dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL27/04/2026 | Admin
Panduan Lengkap dari Niat hingga Pembagian Daging
Panduan Lengkap dari Niat hingga Pembagian Daging
Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik. Bagi seorang Muslim, memahami tata cara kurban sesuai sunnah bukan hanya soal teknis penyembelihan, tetapi juga mencerminkan ketaatan kepada Allah SWT serta meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui panduan lengkap mulai dari niat hingga pembagian daging agar ibadah ini diterima dan bernilai maksimal di sisi Allah. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara rinci dan mudah dipahami mengenai tata cara kurban sesuai sunnah, sehingga dapat menjadi pedoman praktis bagi setiap Muslim yang ingin menjalankan ibadah kurban dengan benar. Pengertian dan Hukum Kurban Kurban atau udhiyah adalah penyembelihan hewan ternak tertentu pada waktu tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kautsar: 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), terutama bagi yang mampu. Niat dalam Berkurban Niat merupakan hal pertama dan utama dalam tata cara kurban sesuai sunnah. Niat harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk riya atau pamer. Niat tidak harus dilafalkan, cukup di dalam hati. Namun, melafalkan niat diperbolehkan untuk membantu menghadirkan kesungguhan. Contoh niat: “Saya niat berkurban karena Allah Ta’ala.” Syarat Hewan Kurban Dalam menjalankan tata cara kurban sesuai sunnah, pemilihan hewan sangat penting. Hewan yang boleh dijadikan kurban antara lain: Kambing atau domba (minimal usia 1 tahun atau sudah berganti gigi) Sapi atau kerbau (minimal usia 2 tahun) Unta (minimal usia 5 tahun) Ciri-ciri Hewan yang Sah untuk Kurban: Tidak cacat (tidak buta, pincang, atau sakit parah) Tidak terlalu kurus Sehat dan cukup umur Rasulullah SAW bersabda: “Empat jenis hewan yang tidak sah dijadikan kurban: yang jelas buta, yang jelas sakit, yang pincang, dan yang sangat kurus.” (HR. Abu Dawud) Waktu Penyembelihan Waktu penyembelihan merupakan bagian penting dalam tata cara kurban sesuai sunnah. Penyembelihan dilakukan: Setelah shalat Iduladha (10 Dzulhijjah) Hingga hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah) Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menyembelih sebelum shalat Id, maka itu hanyalah daging biasa.” (HR. Bukhari dan Muslim) Tata Cara Penyembelihan Sesuai Sunnah Berikut langkah-langkah penyembelihan dalam tata cara kurban sesuai sunnah: 1. Menghadapkan Hewan ke Kiblat Hewan dibaringkan dengan posisi miring ke kiri dan menghadap kiblat. 2. Membaca Basmalah dan Takbir Saat menyembelih, membaca: “Bismillah, Allahu Akbar.” 3. Menggunakan Pisau Tajam Pisau harus tajam agar tidak menyakiti hewan secara berlebihan. 4. Memotong Saluran yang Tepat Memotong tiga saluran utama: Saluran pernapasan (trakea) Saluran makanan (esofagus) Pembuluh darah 5. Tidak Menyiksa Hewan Dalam tata cara kurban sesuai sunnah, ditekankan agar hewan diperlakukan dengan baik sebelum disembelih. Sunnah bagi Orang yang Berkurban Ada beberapa amalan sunnah yang dianjurkan bagi orang yang berkurban: Tidak memotong rambut dan kuku sejak awal Dzulhijjah hingga hewan disembelih Menyembelih sendiri jika mampu Menyaksikan proses penyembelihan Hal ini menunjukkan kesempurnaan dalam menjalankan tata cara kurban sesuai sunnah. Pembagian Daging Kurban Pembagian daging merupakan tahap akhir dalam tata cara kurban sesuai sunnah. Pembagian dilakukan dengan adil dan sesuai syariat. Pembagian yang Dianjurkan: Sepertiga untuk diri sendiri dan keluarga Sepertiga untuk kerabat dan tetangga Sepertiga untuk fakir miskin Namun, pembagian ini tidak wajib, melainkan anjuran. Larangan dalam Pembagian: Tidak boleh menjual bagian dari hewan kurban Tidak boleh memberikan upah kepada penyembelih dari daging kurban Hikmah Ibadah Kurban Ibadah kurban memiliki banyak hikmah, antara lain: Mendekatkan diri kepada Allah SWT Menumbuhkan rasa empati terhadap sesama Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim AS Mengajarkan keikhlasan dan pengorbanan Dengan memahami tata cara kurban sesuai sunnah, seorang Muslim dapat meraih hikmah ini secara maksimal. Kesalahan yang Sering Terjadi Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam praktik kurban: Menyembelih sebelum shalat Id Memilih hewan yang tidak memenuhi syarat Tidak memperhatikan niat Pembagian daging yang tidak tepat Menghindari kesalahan ini merupakan bagian dari menjalankan tata cara kurban sesuai sunnah dengan benar. Sebagai ibadah yang sarat makna, kurban bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga bentuk nyata ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT. Dengan memahami dan menerapkan tata cara kurban sesuai sunnah, umat Islam dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih sempurna dan penuh keberkahan. Dari niat yang tulus, pemilihan hewan yang sesuai syariat, proses penyembelihan yang benar, hingga pembagian daging yang adil, semuanya merupakan rangkaian ibadah yang tidak boleh diabaikan. Semoga panduan ini dapat membantu setiap Muslim dalam menjalankan ibadah kurban dengan lebih baik dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
ARTIKEL27/04/2026 | Admin
Ke Mana Zakat Disalurkan, Ini Penjelasan Transparannya
Ke Mana Zakat Disalurkan, Ini Penjelasan Transparannya
Banyak orang masih bertanya, kemana zakat disalurkan setelah dibayarkan. Hal ini wajar, karena transparansi menjadi salah satu alasan utama seseorang ingin memastikan bahwa zakatnya benar-benar sampai kepada yang berhak. Dalam Islam, penyaluran zakat sudah diatur secara jelas, sehingga tidak bisa diberikan sembarangan. Landasan utama penyaluran zakat terdapat dalam Al-Qur’an, tepatnya pada QS At-Taubah ayat 60: “Innama ash-shadaqatu lil-fuqara’i wal-masakini wal-‘amilina ‘alaiha wal-mu’allafati qulubuhum wa fir-riqabi wal-gharimina wa fi sabilillahi wabnis sabil, faridhatan minallah, wallahu ‘alimun hakim.” Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, pengelola zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Makna dari ayat ini menegaskan bahwa zakat hanya boleh disalurkan kepada delapan golongan tertentu atau yang dikenal sebagai asnaf. Berikut penjelasan masing-masing golongan: 1. Fakir Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan, sehingga sangat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mereka menjadi prioritas utama dalam penyaluran zakat karena kondisi ekonominya paling lemah. 2. Miskin Miskin adalah orang yang memiliki penghasilan, tetapi masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka tetap membutuhkan bantuan agar bisa hidup lebih layak. 3. Amil Amil adalah orang atau lembaga yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan hingga penyaluran. Mereka berhak menerima bagian karena menjalankan amanah besar dalam distribusi zakat secara profesional. 4. Muallaf Muallaf adalah orang yang baru masuk Islam atau yang perlu dikuatkan keimanannya. Zakat diberikan sebagai bentuk dukungan agar mereka lebih mantap dalam menjalankan ajaran Islam. 5. Riqab Riqab merujuk pada upaya membebaskan orang dari perbudakan. Dalam konteks sekarang, maknanya bisa diperluas menjadi membantu orang yang tertindas atau tidak memiliki kebebasan hidup secara layak. 6. Gharimin Gharimin adalah orang yang memiliki utang karena kebutuhan mendesak dan bukan untuk hal yang dilarang. Zakat membantu meringankan beban mereka agar bisa kembali stabil secara finansial. 7. Fisabilillah Fisabilillah berarti segala bentuk perjuangan di jalan Allah. Ini mencakup kegiatan dakwah, pendidikan, hingga program sosial yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Zakat membantu mereka agar bisa melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat asalnya. Di masa sekarang, penyaluran zakat umumnya dikelola oleh lembaga resmi agar lebih terarah dan transparan. Programnya tidak hanya bersifat bantuan langsung seperti kebutuhan pokok, tetapi juga pemberdayaan seperti modal usaha, pendidikan, dan layanan kesehatan. Jadi, jika kamu masih bertanya kemana zakat disalurkan, jawabannya sudah sangat jelas dalam Islam. Zakat bukan hanya ibadah, tetapi juga sistem sosial yang memastikan kesejahteraan umat terjaga secara adil dan berkelanjutan.
ARTIKEL23/04/2026 | Admin
Tentang zakat fitrah
Tentang zakat fitrah
Tentang zakat fitrah Zakat fitrah (zakat al-fitr) adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang ditunaikan pada bulan Ramadan dan disempurnakan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kewajiban zakat fitrah ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar ra: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat Muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau SAW memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari Muslim) Selain sebagai bentuk penyucian diri setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, zakat fitrah juga merupakan wujud kepedulian sosial kepada masyarakat yang kurang mampu. Melalui zakat fitrah, kebahagiaan dan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri diharapkan dapat dirasakan secara lebih merata, termasuk oleh masyarakat miskin yang membutuhkan. Zakat fitrah wajib ditunaikan bagi setiap jiwa, dengan syarat beragama Islam, hidup pada saat bulan Ramadhan, dan memiliki kelebihan rezeki atau kebutuhan pokok untuk malam dan Hari Raya Idul Fitri. Besarannya adalah beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Berdasarkan SK Ketua BAZNAS Kabupaten Sampang No. 07 Tahun 2026 tentang Nilai Zakat Fitrah dan Fidyah BAZNAS Tahun 1447 H/2026 M, ditetapkan bahwa besaran zakat fitrah adalah 2,5 kg atau 3,5 liter beras atau makanan pokok per jiwa, atau setara dengan uang senilai Rp50.000,00 per jiwa. Zakat fitrah dapat ditunaikan sejak awal bulan Ramadhan dan paling lambat sebelum pelaksanaan Shalat Idul Fitri. Adapun penyalurannya kepada mustahik (penerima zakat) dilakukan sebelum Shalat Idul Fitri, agar zakat fitrah dapat memberikan manfaat secara optimal bagi penerima. Zakat fitrah yang dihimpun oleh BAZNAS akan disalurkan kepada mustahik kepada mustahik yang membutuhkan.
ARTIKEL09/03/2026 | Admin
Kebencanaan
Kebencanaan
KEBENCANAAN Membumikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan hal yang tidak mudah, penuh pengorbanan, keikhlasan dan yang terpenting adalah kemauan keras untuk melakukannya. Mencoba memberikan pelayanan terbaik bagi umat merupakan nilai yang selalu tertanam pada setiap anggota tim dan relawan BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) yang selalu berusaha untuk hadir di tengah-tengah para penyintas. Kiprah BAZNAS Tanggap Bencana selama ini semata-mata untuk melayani dan demi memberi arti bagi kemuliaan setiap penerima manfaat (mustahik) terdampak bencana. Selain itu, upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tetap terus dilakukan dengan lebih gencar untuk menguatkan kapasitas, mengurangi kerentanan dan meminimalisir risiko untuk menghindari ancaman yang bisa sewaktu-waktu muncul, kapan dan di mana saja. Setiap kejadian selalu menyisakan sebuah harapan. Harapan untuk bangkit dari keterpurukan, harapan untuk lebih baik, harapan untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Sinergi antar lembaga dan para muzaki semoga dapat mewujudkan setiap harapan yang tersirat dan tersurat para penyintas melalui donasi yang disalurkan. BAZNAS TANGGAP BENCANA (BTB) Program ini berjalan melalui tiga subprogram yakni: Penanganan kebencanaan melalui langkah rescue, relief, recovery, dan reconstruction; Penanganan Risiko Bencana (PRB) melalui edukasi kebencanaan; Kerelawanan melalui rekrutmen dan pelatihan relawan. Respon Darurat Bencana Kecepatan merespon kejadian bencana adalah kunci utama memberikan pelayanan terbaik bagi para korban. Untuk mendukung upaya ini BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) merespon berbagai kejadian bencana di Indonesia. Dukungan darurat tersebut berupa layanan kesehatan, dapur umum, dapur air, serta layanan dukungan psikososial. Masa Pemulihan Pasca Bencana Selain respon darurat terhadap dampak bencana, BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) juga memberikan bantuan masa pemulihan pasca bencana melalui program pemulihan ekonomi, pendidikan, hingga perbaikan tempat tinggal. Pengurangan Risiko Bencana Program ini dilakukan dengan membentuk: Kampung Tanggap Bencana, yaitu komunitas yang mampu mengantisipasi ancaman bencana di wilayahnya; Masyarakat Bangkit Sejahtera, yaitu dengan mendampingi masyarakat terdampak sampai kembali pulih; BTB Goes to School, yaitu membangun ketangguhan pelajar dalam menghadapi bencana; Madrasah Aman Tanggap Bencana, yaitu pembentukan civitas sekolah yang memiliki kapasitas dalam menghadapi bencana. Visi BAZNAS Tanggap Bencana Menjadi lembaga tanggap bencana yang handal dalam pengurangan risiko bencana, kuat membangun kemandirian masyarakat dalam situasi bencana dan cepat memberikan bantuan darurat. 4 Asas Syariat Islam Kemanusiaan Keadilan Kebersamaan 7 Prinsip Kerja Cepat Tepat Berdaya Guna Berhasil Guna Prioritas Koordinasi Akuntabilitas Tujuan BAZNAS Tanggap Bencana Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB) melalui edukasi, sekaligus mengurangi potensi kemiskinan baru. Menangani korban bencana melalui tahapan Rescue, Relief, Recovery, Rekonstruksi agar dapat melanjutkan penghidupannya (livelihood) secara normal kembali. Menumbuhkan jiwa kerelawanan di masyarakat, menguatkan kapasitas dan membangun jejaring relawan untuk membantu kaum miskin/rentan. Strategi BAZNAS Tanggap Bencana Berbasis Kerelawanan Mengakomodir keterlibatan masyarakat luas dalam kepedulian terhadap korban bencana Menjunjung tinggi nilai-nilai kesukarelawanan. Berbasis Komunitas Program BTB dilaksanakan dengan sasaran mustahik/penerima manfaat yang berada dalam suatu wilayah geografis tertentu atau suatu tempat karena bencana atau karena rawan bencana dan dalam berbagai bentuk kegiatan yang disepakati bersama komunitas tertentu. Berbasis Riset dan Edukasi Menyelenggarakan program pengurangan risiko bencana dan aktif mengampanyekan pengurangan isu-isu pengurangan risiko bencana dalam rangka pengurangan kemiskinan dan menanggulangi kemiskinan. Penguatan basis data kebencanaan dan penerima manfaat. Optimalisasi Komunikasi Publik Penguatan sistem informasi kebencanaan Penyebarluasan informasi melalui media sosial, web, buletin, seminar, diskusi, FGD, jurnal, penerbitan buku. Sinergi Melibatkan dan terlibat bersama stakeholder penanggulangan kebencanaan lainnya Penguatan networking program kebencanaan di level BAZNAS Prov/Kota/Kab dan LAZ. Berbasis Sumberdaya Lokal Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya lokal (SDM, SDA, dst) Penguatan livelihood.
ARTIKEL11/11/2025 | Admin
Tentang Zakat
Tentang Zakat
tentang zakat Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim apabila telah mencapai syarat yang ditetapkan. Sebagai salah satu rukun Islam, Zakat ditunaikan untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (asnaf). Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5) Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan dan pensuci dari dosa-dosa. Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103). Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik. Sementara menurut Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014, Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Zakat dikeluarkan dari harta yang dimiliki. Akan tetapi, tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Syarat dikenakannya zakat atas harta di antaranya: harta tersebut merupakan barang halal dan diperoleh dengan cara yang halal; harta tersebut dimiliki penuh oleh pemiliknya; harta tersebut merupakan harta yang dapat berkembang; harta tersebut mencapai nishab sesuai jenis hartanya; harta tersebut melewati haul; dan pemilik harta tidak memiliki hutang jangka pendek yang harus dilunasi. Asnaf (8 Golongan) Penerima Zakat Sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya, salah satu diantaranya adalah kepada siapa zakat diberikan. Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut: Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan. Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Mualaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah. Riqab, budak atau hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya. Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya. Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya. Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah. Jenis Zakat Secara umum zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat Fitrah (zakat al-fitr) adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya, tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat mal terdiri atas uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, dan lain-lain, sebagaimana yang terdapat dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014 yang telah diubah dua kali dengan perubahan kedua adalah Peraturan Menteri Agama No. 31/2019, dan pendapat Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi serta para ulama lainnya. Zakat mal sebagaimana dimaksud pada paragraf di atas meliputi: 1. Zakat emas, perak, dan logam mulia lainnya Adalah zakat yang dikenakan atas emas, perak, dan logam lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. 2. Zakat atas uang dan surat berharga lainnya Adalah zakat yang dikenakan atas uang, harta yang disetarakan dengan uang, dan surat berharga lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. 3. Zakat perniagaan Adalah zakat yang dikenakan atas usaha perniagaan yang telah mencapai nisab dan haul. 4. Zakat pertanian, perkebunan, dan kehutanan Adalah zakat yang dikenakan atas hasil pertanian, perkebunan dan hasil hutan pada saat panen. 5. Zakat peternakan dan perikanan Adalah zakat yang dikenakan atas binatang ternak dan hasil perikanan yang telah mencapai nisab dan haul. 6. Zakat pertambangan Adalah zakat yang dikenakan atas hasil usaha pertambangan yang telah mencapai nisab dan haul. 7. Zakat perindustrian Adalah zakat atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi barang dan jasa. 8. Zakat pendapatan dan jasa Adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang diperoleh dari hasil profesi pada saat menerima pembayaran, zakat ini dikenal juga sebagai zakat profesi atau zakat penghasilan. 9. Zakat rikaz Adalah zakat yang dikenakan atas harta temuan, dimana kadar zakatnya adalah 20%. Syarat Zakat Mal dan Zakat Fitrah: 1. Harta yang dikenai zakat harus memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan syariat Islam. 2. Syarat harta yang dikenakan zakat mal sebagai berikut: a. milik penuh b. halal c. cukup nisab d. haul 3. Hanya saja, syarat haul tidak berlaku untuk zakat pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan, pendapatan dan jasa, serta zakat rikaz. Sedangkan untuk syarat zakat fitrah sebagai berikut: beragama Islam hidup pada saat bulan ramadhan; memiliki kelebihan kebutuhan pokok untuk malam dan hari raya idul fitri;
ARTIKEL20/10/2025 | Admin
Tentang Zakat Penghasilan
Tentang Zakat Penghasilan
tentang zakat penghasilan Zakat penghasilan atau yang dikenal juga sebagai zakat profesi; zakat pendapatan adalah bagian dari zakat mal yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan / penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar syariah. Nishab zakat penghasilan sebesar 85 gram emas per tahun. Kadar zakat penghasilan senilai 2,5%. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya. Nishab dan Kadar Zakat Penghasilan Zakat penghasilan dikeluarkan dari harta yang dimiliki pada saat pendapatan/ penghasilan diterima oleh seseorang yang sudah dikatakan wajib zakat. Lalu siapa orang yang wajib menunaikan zakat penghasilan? Seseorang dikatakan sudah wajib menunaikan zakat penghasilan apabila ia penghasilannya telah mencapai nishab zakat pendapatan sebesar 85 gram emas per tahun. Hal ini juga dikuatkan dalam SK Ketua BAZNAS Nomor 13 Tahun 2025 Tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2025, bahwa; Nishab zakat pendapatan / penghasilan pada tahun 2025 adalah senilai 85 gram emas atau setara dengan Rp85.685.972,- (delapan puluh lima juta enam ratus delapan puluh lima ribu sembilan ratus tujuh puluh dua rupiah)/tahun atau Rp7.140.498,00 (tujuh juta seratus empat puluh ribu empat ratus sembilan puluh delapan rupiah)/bulan. Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat ditunaikan setiap bulan dengan nilai nishab perbulannya adalah setara dengan nilai seperduabelas dari 85 gram emas (seperti nilai yang tertera di atas) dengan kadar 2,5%. Jadi apabila penghasilan setiap bulan telah melebihi nilai nishab bulanan, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari penghasilannya tersebut Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nishab, maka hasil pendapatan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab. Nishab Zakat Penghasilan 85 gram emas Kadar Zakat Penghasilan 2,5% Haul 1 tahun Cara menghitung Zakat Penghasilan: 2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 bulan Contoh: Jika harga emas pada hari ini sebesar Rp938.099/gram, maka nishab zakat penghasilan dalam satu tahun adalah Rp79.292.978,-. Penghasilan Bapak Fulan sebesar Rp10.000.000/ bulan, atau Rp120.000.000,- dalam satu tahun. Artinya penghasilan Bapak Fulan sudah wajib zakat. Maka zakat Bapak Fulan adalah Rp250.000,-/ bulan. Tunaikan zakat penghasilan Anda melalui BAZNAS Kabupaten Sampang dengan cara transfer via rekening: BSI 720 846 2991 a.n. BAZNAS kabupaten Sampang Konfirmasikan zakat Anda untuk mendapatkan Bukti Setor Zakat (BSZ) sebagai pengurang pajak (PTKP). Atau melalui layanan Zakat Online BAZNAS Kabupaten Sampang dengan Klik Link: https://kabsampang.baznas.go.id/bayarzakat (Sumber: Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, SK BAZNAS no.13 Tahun 2025 Tentang Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2025, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi).
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Tentang Fidyah
Tentang Fidyah
tentang fidyah Fidyah diambil dari kata “fadaa” artinya mengganti atau menebus. Bagi beberapa orang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa dengan kriteria tertentu, diperbolehkan tidak berpuasa serta tidak harus menggantinya di lain waktu. Namun, sebagai gantinya diwajibkan untuk membayar fidyah. Ada ketentuan tentang siapa saja yang boleh tidak berpuasa. Hal ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 184. ”(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 184) Adapun kriteria orang yang bisa membayar fidyah di antaranya: Orang tua renta yang tidak memungkinkannya untuk berpuasa Orang sakit parah yang kecil kemungkinan sembuh Ibu hamil atau menyusui yang jika berpuasa khawatir dengan kondisi diri atau bayinya (atas rekomendasi dokter). Fidyah wajib dilakukan untuk mengganti ibadah puasa dengan membayar sesuai jumlah haripuasa yang ditinggalkan untuk satu orang. Nantinya, makanan itu disumbangkan kepada orang miskin. Menurut Imam Malik, Imam As-Syafi'I, fidyah yang harus dibayarkan sebesar 1 mud gandum (kira-kira 6 ons = 675 gram = 0,75 kg atau seukuran telapak tangan yang ditengadahkan saat berdoa). Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah, fidyah yang harus dikeluarkan sebesar 2 mud atau setara 1/2 sha' gandum. (Jika 1 sha' setara 4 mud = sekitar 3 kg, maka 1/2 sha' berarti sekitar 1,5 kg). Aturan kedua ini biasanya digunakan untuk orang yang membayar fidyah berupa beras. Cara membayar fidyah ibu hamil bisa berupa makanan pokok. Misal, ia tidak puasa 30 hari, maka ia harus menyediakan fidyah 30 takar di mana masing-masing 1,5 kg. Fidyah boleh dibayarkan kepada 30 orang fakir miskin atau beberapa orang saja (misal 2 orang, berarti masing-masing dapat 15 takar). Menurut kalangan Hanafiyah, fidyah boleh dibayarkan dalam bentuk uang sesuai dengan takaran yang berlaku seperti 1,5 kilogram makanan pokok per hari dikonversi menjadi rupiah. Cara membayar fidyah puasa dengan uang versi Hanafiyah adalah memberikan nominal uang yang sebanding dengan harga kurma atau anggur seberat 3,25 kilogram untuk per hari puasa yang ditinggalkan, selebihnya mengikuti kelipatan puasanya. Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 07 Tahun 2023 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta Raya dan Sekitarnya, ditetapkan bahwa nilai fidyah dalam bentuk uang sebesar Rp60.000,-/hari/jiwa
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Tentang Sedekah
Tentang Sedekah
tentang sedekah Sedekah merupakan kata yang sangat familiar di kalangan umat Islam. Sedekah diambil dari kata bahasa Arab yaitu “shadaqah”, berasal dari kata sidq (sidiq) yang berarti “kebenaran”. Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sedekah, salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 271). Keutamaan Sedekah 1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). 2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api. (HR. At-Tirmidzi). 3. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) Itulah beberapa keistimewaan sedekah. Begitu banyak nikmat Allah dalam bersedekah, semoga kita termasuk ke dalam orang orang yang diringankan dalam melakukan ibadah istimewa ini. Aamiin.
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Tentang Infak
Tentang Infak
tentang infak infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum (Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada BAB I Pasal 1). infak merupakan amalan yang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari seorang Muslim. infak berasal dari Bahasa Arab, "anfaqa" yang berarti membelanjakan harta atau memberikan harta. Sedangkan infak berarti keluarkanlah harta. Sejatinya infak dibagi menjadi dua, ada infak untuk kebaikan, dan infak untuk keburukan. infak kebaikan ini dilakukan atau dibelanjakan untuk di jalan Allah, yang juga dengan harta berasal dari hal baik. Sedangkan infak keburukan contohnya, dijelaskan dalam Surat Al-Anfal Ayat 36, yang artinya sebegai berikut: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan" (QS. Al-Anfal : 36). Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan setiap hambanya agar menyisihkan hartanya untuk berinfak yang hal ini masuk dalam kebaikan, dan Allah mencintai hambanya yang berbuat baik. Hal ini dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 133-134. “Dan bersegeralah kamu kepada keampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang takwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan (hartanya) baik di waktu senang atau di waktu susah, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali Imran: 133-134). infak ternyata memiliki perbedaan dari sedekah, infak sebenarnya dilakukan dengan harta atau material, sedangkan sedekah, bisa dilakukan dengan non-harta atau non-material. Misalnya saja sedekah bisa dilakukan dengan senyuman, “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Keutamaan Berinfak 1. Memperoleh Pahala yang Besar “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebahagian dari hartamu yang Allah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (sebahagian) dari hartanya memperolehi pahala yang besar”. (QS. Al-Hadid: 7). 2. Didoakan Malaikat “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari). 3. Allah Ganti Harta yang Diinfakkan "Katakanlah: 'Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)'. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan (belanjakan), maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba: 39).
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Tentang Zakat Maal
Tentang Zakat Maal
tentang zakat maal Maal berasal dari kata bahasa Arab artinya harta atau kekayaan (al-amwal, jamak dari kata maal) adalah “segala hal yang diinginkan manusia untuk disimpan dan dimiliki” (Lisan ul-Arab). Menurut Islam sendiri, harta merupakan sesuatu yang boleh atau dapat dimiliki dan digunakan (dimanfaatkan) sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu dalam pengertiannya, zakat maal berarti zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat maal terdiri atas simpanan kekayaan seperti uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, aset perdagangan, hasil barang tambang atau hasil laut, hasil sewa aset dan lain sebagainya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Fiqh uz-Zakah, zakat maal meliputi: Zakat simpanan emas, perak, dan barang berharga lainnya; Zakat atas aset perdagangan; Zakat atas hewan ternak; Zakat atas hasil pertanian; Zakat atas hasil olahan tanaman dan hewan; Zakat atas hasil tambang dan tangkapan laut; Zakat atas hasil penyewaan asset; Zakat atas hasil jasa profesi; Zakat atas hasil saham dan obligasi. Begitupun dengan yang dijelaskan di dalam UU No. 23 Tahun 2011, zakat maal meliputi; Emas, perak, dan logam mulia lainnya; Uang dan surat berharga lainnya; Perniagaan Pertanian, perkebunan, dan kehutanan; Peternakan dan perikanan Pertambangan Perindustrian Pendapatan dan jasa; dan Rikaz Adapun syarat harta yang terkena kewajiban zakat maal yaitu sebagai berikut: Kepemilikan penuh Harta halal dan diperoleh secara halal Harta yang dapat berkembang atau diproduktifkan (dimanfaatkan) Mencukupi nishab Bebas dari hutang Mencapai haul Atau dapat ditunaikan saat panen
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Tentang Zakat Perdagangan
Tentang Zakat Perdagangan
tentang zakat perdagangan Zakat perdagangan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga, sedangkan harta niaga adalah harta atau aset yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian maka dalam harta niaga harus ada 2 motivasi: Motivasi untuk berbisnis (diperjualbelikan) dan motivasi mendapatkan keuntungan. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Harta perdagangan yang dikenakan zakat dihitung dari asset lancar usaha dikurangi hutang yang berjangka pendek (hutang yang jatuh tempo hanya satu tahun). Jika selisih dari asset lancar dan hutang tersebut sudah mencapai nisab, maka wajib dibayarkan zakatnya. Nisab zakat perdagangan senilai 85 gram emas dengan tarif zakat sebesar 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul). Berikut cara menghitung zakat perdagangan: 2,5% x (aset lancar – hutang jangka pendek) Contoh: Bapak A memiliki aset usaha senilai Rp200.000.000,- dengan hutang jangka pendek senilai Rp50.000.000,-. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka nishab zakat senilai Rp52.870.000,-. Sehingga Bapak A sudah wajib zakat atas dagangnya. Zakat perdagangan yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x (Rp200.000.000,- - Rp50.000.000,-) = Rp3.750.000,-.
ARTIKEL17/10/2025 | Admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Sampang.

Lihat Daftar Rekening →